Jemaah haji secara bertahap mulai berjalan menuju Mina. Sebuah padang pasir yang terletak sekitar 5 km di sebelah timur Makkah. Posisinya berada di antara Kota Makkah dan Muzdalifah. Mina termasuk dalam Masy’aril Haram (Bukit Quzah di Muzhdalifah). Di sinilah Nabi Ibrahim melempar jumroh dan menyembelih domba sebagai pengganti Nabi Ismail. Di sini juga tempat Rasulullah melempar jumrah dan menyembelih kurban saat pelaksanaan haji wada beliau SAW.

 

Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik laa syariika laka labbaik innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syariika laka.

Engkau dan setiap tubuhmu bertanggung jawab terhadap amal perbuatanmu. Ketika berada dalam "rumah perbaikan" ini, bersiaplah engkau untuk "rumah pengadilan". Matilah sebelum engkau mati. Pergi dan tunaikanlah ibadah haji!

Haji, mencerminkan kepulanganmu kepada Allah. Pulang kepada Allah adalah sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan, nilai-nilai dan fakta-fakta.

Permulaan haji adalah berawal di miqot. Dititik ini manusia harus berganti pakainnya. Kenapa? Karena pakaian yang kita kenakan selama ini hanya pakaian yang justru menutupi diri dan watak manusia yang sejati.

Pakaian melambangkan pola, preferensi, status dan perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan batas palsu yang hanya menimbulkan kecemburuan antar sesama. Kini seluruh pakaian yang berbeda-beda itu ditanggalkan, dilepaskan dan berganti kain kafan! Sehelai kain putih sederhana.

Kita harus mengenakan pakaian putih sama antara satu dengan lainnya. Saksikanlah kemudiannya betapa keseragaman terwujud. Tak ada ruang lagi untuk kita bertinggi hati. Kita disana bukan untuk mengunjungi manusia, tetapi kita mengunjungi Allah, kita mengunjungi bait-Nya, dimana semua manusia sama dihadapan-Nya. Dia tidak melihat beraneka ragam jenis dan bentuk pakaian yang kita kenakan, Dia hanya melihat kesamaan dan kekudusan kita mendekati-Nya.

Kain putih yang kita semua pakai disana, berjumlah dua helai. Satu diselempangkan diatas bahu dan sehelainya dililitkan dipinggang. Tak ada gaya atau bahan-bahan khusus. Kain itu haruslah yang sederhana. Kain itu... adalah simbol kafan yang kelak kita semua akan kenakan sebagai pakaian terakhir kita.

Eksistensi kita di Mina, adalah refleksi dari peran kita sebagai seorang Ibrahim yang hanif, yang taat dan tunduk kepada kehendak Tuhan.

Semua dilakukan karena cinta.
Dan cinta itu diwujudkan diatas padang 'arofah, dibawah Jabal Rahmah alias bukit cinta.

Di bawah kaki bukit cinta ini, jemaah akan mencapai titik puncak ritual hajinya, berwukuf diseluruh area padang Arofah. Sebuah moment bagi setiap jemaah melakukan kontemplasi diri, merenung dan bermuhasabah. Sebuah napak tilas kejadian masa lalu untuk melakukan perubahan qolbu dimasa depan.

Semoga dengan bersamaan waktu-waktu jelang ibadah wukuf ini, kebaikan juga menyertai kita semua, menyertai seluruh kaum muslimin, menyertai perjalanan bangsa ini kedepan, menyertai kehidupan anak dan cucu kita pada dekade selanjutnya.

InsyaAllah ketika kita sudah mulai masuk hari raya 'Iedul Qurban. Mari sama kita bertakbir, mengumandangkan puja dan puji kepada Allah ta'ala, membersihkan tauhid kita dari semua penyekutuan. Patrikan bahwa Allah Maha Besar, tiada tuhan selain Allah, tidaklah DIA beranak maupun diperanakkan. Allah, segala pengabdian hanya untuk-Nya.

Bukit cinta menjadi saksi kecintaan para jemaah haji yang rela meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarga mereka, mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk sampai kebaitullah, bersesakan untuk tawaf mengitarinya, bersama melempar jumroh hingga wukuf di padang Arafah, dibawah jabal rahmah, menangis, berharap uluran balik cinta dari sang Maha Pencinta. Allah, Rabbil izzati.

 

Salam penuh cinta 
Armansyah, Palembang.